Kamis, 28 Januari 2010

Analisis Tentang Rasa Percaya diri siswa dalam menghadapi Ujian di SMP 02 Dulupi Kabupaten Boalemo.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melaju dengan pesat. Untuk menghadapi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, dunia pendidikan harus dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada. Terkait dengan masalah tersebut diatas tampaknya dunia pendidikan nasional kita sedang menghadapi tantangan yang cukup berat dan kompleks dalam menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional no. 20 tahun 2003 pasal 3 menyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk memperoleh suatu output pendidikan yang baik dalam praktek penyelenggaraan pendidikan, sekolah merupakan tempat terjadinya kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dengan siswa. Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang berbeda yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lain. Belajar mengacu kepada kegiatan siswa, sementara mengajar itu sendiri mengacu kepada kegiatan guru. Sedangkan menurut Djamarah (2002 : 13), mengemukakan bahwa “Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor”.
Sedangkan mengajar diartikan sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar (Nasution, 2000:4). Jadi belajar mengajar merupakan interaksi edukatif antara guru dengan siswa.
Mudjiono (1998:238) menjelaskan bahwa guru adalah pendidik yang membelajarkan siswa. Tugas mendidik ini merupakan hal yang berat bagi guru, karena ia berkaitan dengan penanaman nilai, etika dan moral bagi anak/siswa. Pada tahap kegiatan pembelajaran, untuk mengukur keberhasilan siswa pada proses pembelajaran salah satunya dengan melaksanakan evaluasi pembelajaran. pelaksanaan evaluasi pembelajaran dapat dilakukan melalui tes dan non tes. Kedua bentuk tes tersebut merupakan bentuk ujian bagi siswa dalam mengukur kemampuan diri dalam pembelajaran.
Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanan ujian adalah rasa percaya diri siswa. Percaya diri merupakan perasaan yang ada dalam diri siswa yang diakibatkan adanya respon dari luar untuk berani bertindak. Percaya diri siswa sangat berpotensi dalam keberhasilan belajar, hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran sehari-hari bahwa siswa yang memiliki kemampuan atau pintar akan menjadi tidak mampu untuk atau salah untuk melakukan sesuatu pekerjaan karena dipengaruhi rendahnya percaya diri siswa tersebut.
Dalam menghadapi ujian, sudah tentu siswa harus siap dalam segi mental maupun fisik. Dari segi mental merupakan kesiapan yang berasal dari dalam diri siswa berupa percaya diri, sehat rohani, motivasi serta minat yang sudah siap. Sedangkan dari segi fisik berupa kesehatan jasmani dan sebagainya. Percaya diri yang baik pada siswa merupakan harapan bagi orang tua dan guru. Dengan kesiapan rasa percaya diri siswa, dalam menghadapi ujian tidak terjadi lagi rasa panik, gerogi ataupun takut.
Percaya diri pada diri siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yakni faktor yang berasal dari diri siswa seperti ketidaksiapan mental dan rendahnya emosional question (EQ). Sedngkan faktor eksternal yakni faktor yang berasal dari luar diri siswa seperti ketidakbiasaan, lingkungan, dan sebagainya. Kedua faktor tersebut mempengaruhi erat rasa percaya diri siswa dalam menghadapi ujian, sehingga kesuksesan siswa dapat ditentukan dari tingkat percaya diri yang dimiliki.
Namun kenyataan yang terjadi di lapangan bahwa, rasa percaya diri siswa dalam menghadapi ujian di SMP 02 Dulupi Kabupaten Boalemo masih sangat rendah, hal ini dapat dilihat banyaknya siswa yang merasa gugup saat menjelang ujian dan bahkan saat menghadapi ujian. Raut wajah yang pucat bahkan ada tangan siswa yang gemetar ataupun telapak tangan siswa atau bahkan wajah siswa yang selalu mengeluarkan keringat saat menerima lembar soal atau lembar jawaban siswa. Berdasarkan kenyataan tersebut, maka peneliti merumuskan judul Analisis Tentang Rasa Percaya diri siswa dalam menghadapi Ujian di SMP 02 Dulupi Kabupaten Boalemo.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan di atas, maka dapat di identifikasi masalah dalam penelitian ini yaitu :
1.2.1 Rendahnya percaya diri siswa dalam menghadapi ujian.
1.2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya percaya diri siswa dalam menghadapi ujian.
1.2.3 Bagaimana peran guru dalam meningkatkan percaya diri siswa dalam menghadapi ujian?

1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang dikemukan untuk memberi arah dalam analisis dan pembahasan dalam penelitian, maka rumusan masalah adalah “Bagaimanakah analisis tentang percaya diri siswa dalam menghadapi ujian di SMP 02 Dulupi Kabupaten Boalemo?”.

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis percaya diri siswa dalam menghadapi ujian di SMP 02 Dulupi Kabupaten Boalemo.

1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dengan diadakannya penelitian ini adalah
a. Manfaat teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi para pembaca dan khususnya bagi peneliti sendiri dalam upaya menambah pengetahuan khususnya dalam menganalisis percaya diri siswa dalam menghadapi ujian serta memahami hal-hal yang perlu dilakukan dalam meningkatkan percaya diri siswa.
b. Manfaat praktis, dapat berguna bagi responden ialah agar rasa percaya diri siswa dalam menghadapi ujian dapat ditingkatkan sehingga mampu meningkatkan hasil belajar.


BAB II
KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Kajian Teoretis
2.1.1 Pengertian Percaya Diri
Percaya diri merupakan keyakinan dalam diri seseorang untuk dapat menangani segala sesuatu dengan tenang. Percaya diri merupakan keyakinan dalam diri yang berupa perasaan dan anggapan bahwa dirinya dalam keadaan baik sehingga memungkinkan individu tampil dan berperilaku dengan penuh keyakinan.
Sedangkan Angelis (1997 : 10) menerangkan bahwa percaya diri merupakan suatu keyakinan dalam jiwa manusia untuk menghadapi tantangan hidup apapun dengan berbuat sesuatu. Setiap individu mempunyai hak untuk menikmati kebahagiaan dan kepuasan atas apa yang telah diperolehnya, tetapi itu akan sulit dirasakan apabila individu tersebut memiliki percaya diri yang rendah. Bukan hanya ketidakmampuan dalam melakukan suatu pekerjaan, tetapi juga ketidakmampuan dalam menikmati pekerjaan tersebut.
Percaya diri pada individu tidak selalu sama, pada saat tertentu kita merasa yakin atau mungkin, ada situasi dimana individu merasa yakin dan situasi dimana individu tidak merasa demikian. Seperti yang dikemukakan oleh Angelis (1997:13) bahwa rasa percaya diri itu tidak bisa disamaratakan dari satu aktifitas ke aktivitas lainnya.
Lindenfield (Kamil, 1997 : 12), menerangkan ada individu yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, tetapi tiak dapat menunjukkan rasa percaya diri mereka kepada mereka. Orang lain mungkin tidak tahu dengan jelas pendapat dan gagasan individu tersebut, karena mereka jarang menunjukkannya, atau tidak pernah mendapat “kesempatan” untuk menunjukkannya, karena kemampuan mereka tidak diperhatikan orang lain. Bagi individu yang mengalami rasa kurang percaya diri lahir maupun batin memerlukan adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak agar dapat memulihkan rasa percaya dirinya atau setidaknya dapat terpecahkan masalah yang sedang dihadapinya.
Menurut Surya, (2004: 15) untuk dapat mengembangkan rasa percaya diri terhadap segala macam hal, individu jelas perlu mengalami dan bereksperimen dengan beranekaragam hubungan, dari yang dekat dan akrab di rumah sampai yang lebih asing. Melalui hubungan indivdu juga membangun rasa sadar diri dan pengenalan diri, yang merupakan unsur penting dari rasa percayaan diri.
Sedangkan Lindenfield (Kamil, 1997 : 15), menerangkan bahwa individu tersebut membutuhkan orang yang menjadi tempat berlatih bagi mereka, agar mereka lebih percaya diri dan terampil. Orang yang memberikan kepada mereka umpan balik yang jujur dan membangun, baik mereka berhasil, maupun gagal. Dukungan juga merupakan faktor utama dalam membantu anak memiliki kembali rasa percaya diri yang menurun disebabkan oleh trauma, luka dan kekecewaan. Dalam hal ini siswa akan lebih dapat terbuka dengan kelompok sebaya untuk membicarakan masalah pribadinya.

2.1.2 Gejala Kurang Percaya Diri
Rasa kurang percaya diri pada individu dapat dilihat dengan gejala-gejala tertentu yang dapat ditunjukkan dalam berbagai perilaku. Nasution, (2000 : 73) menjelaskan gejala-gejala perilaku kurang percaya diri yaitu suka melamun, kelakuan tidak baik, berlebihan untuk menunjukkan kebaikan, keadaan emosi, keadaan seperti gagap dan ngompol serta gejala lainnya. Kurang percaya diri ini dengan berbagai faktor menyebabkan mungkin timbul kelakuan menarik diri atau negatif, seperti malas, menyendiri, pengecut dan sebagainya.
Menurut Kamil (1997 : 16) orang yang kurang percaya diri dalam menghadapi situasi tertentu akan mengalami gejala seperti : diare, berkeringat, kepala pusing (pening), jantung berdebar kencang, dan otot menjadi tegang dan panik.

2.1.3 Jenis Percaya Diri
Lindenfield (Kamil, 1997 : 4) menyatakan ada dua jenis rasa percaya diri yaitu a) Percaya diri batin, dan b) Percaya diri lahir.
a. Percaya Diri Batin
Lindenfield (Kamil, 1997 : 47) menjelaskan ada empat ciri utama yang khas pada orang yang mempunyai percaya diri batin yang sehat. Keempat ciri itu adalah :
1. Cinta diri
Orang yang percaya diri mencintai diri mereka, dan cinta diri ini bukan merupakan sesuatu yang dirahasiakan. Orang yang percaya diri peduli akan dirinya karena perilaku dan gaya hidupnya adalah untuk memelihara diri. Dengan unsur percaya diri batin individu akan :
a) Menghargai kebutuhan jasmani dan rohani serta menempatkan diri sejajar dengan kebutuhan orang lain.
b) Secara terbuka menunjukkan keinginan untuk dipuji, ditentramkan dan mendapat hadiah secara wajar, dan tidak akan mencoba memanfaatkan orang lain untuk memenuhi permintaan itu secara langsung.
c) Merasa senang bila diperhatikan orang lain dan mampu untuk mendapatkannya.
d) Bangga akan sifat-sifat yang baik dan memusatkan diri untuk memafaatkan sebaik mungkin, mereka tidak mau membuang-buang waktu, tenaga atau uang untuk memikirkan kekurangan-kekurangan mereka sendiri.
2. Pemahaman diri
Orang yang percaya diri batin juga sadar diri. Mereka tidak terus menerus merenungi diri sendiri, tetapi secara teratur mereka memikirkan perasaan, pikiran dan perilaku mereka, dan mereka selalu ingin tahu bagaimana pendapat orang lain tentang diri mereka. Slameto (2003:7) menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi belajar siswa adalah percaya diri yang dimiliki. Dengan rasa percaya diri siswa akan lebih mampu untuk berkonsentrasi dan lebih cepat memahami pembelajaran. Individu yang memiliki pemahaman diri yang baik, mereka akan :
a) Menyadari kekuatan mereka sehingga akan mampu mengembangkan kemampuannya secara penuh.
b) Mengenal kelemahan dan keterbatasan mereka sehingga kecil kemungkinan mereka membiarkan diri mengalami kegagalan berulang kali.
c) Tumbuh dengan kesadaran yang mantap tentang identitas diri sendiri, merekapun jauh lebih mampu dan puas menjadi seorang “pribadi” dan tidak begitu saja mengikuti “khalayak ramai”.
d) Mempunyai pengertian yang sehat mengenai nilai-nilai yang mereka anut, sehingga tidak akan terus menerus resah memikirkan apakah yang mereka lakukan atau yang tidak dilakukan secara moral dapat dibenarkan.
e) Terbuka untuk menerima umpan balik dari orang lain atau tidak selalu melonjak untuk membela diri, bila dikritik orang lain.
3. Tujuan yang jelas
Orang yang percaya diri selalu tahu tujuan hidupnya, karena mereka mempunyai pikiran yang jelas mengapa mereka melakukan tindakan tertentu dan mereka tahu hasil apa yang bisa diharapkan. Dengan unsur ini yang memperkuat rasa percayaan diri, individu akan :
a) Terbiasa menentukan sendiri tujuan yang bisa dicapai, mereka tidak selalu harus bergantung pada orang lain untuk melakukan kegiatannya.
b) Belajar menilai diri sendiri karena mereka bisa memantau kemajuannya dilihat dari tujuan yang mereka tentukan sendiri.
c) Mudah membuat keputusan karena mereka tahu betul apa yang mereka inginkan.
4. Berfikir positif
Orang yang mempunyai percayaan diri biasanya hidupnya menyenangkan. Salah satunya ialah karena mereka biasa melihat kehidupannya dari sisi positif dan mereka mengharap serta mencari pengalaman dan hasil yang bagus. Dengan kekuatan batin yang penting ini, individu akan :
a) Tumbuh dengan harapan bahwa hidup ini membahagiakan.
b) Percaya bahwa setiap masalah dapat diselesaikan.
c) Tidak menyia-nyiakan tenaga untuk mengkhawatirkan kemungkinan hasil yang negatif.
d) Percaya bahwa masa depan akan sebaik (atau mungkin lebih baik) masa lalu.
e) Bersedia menghabiskan waktu dan energi untuk belajar dan melakukan tugasnya, karena mereka percaya bahwa pada akhirnya tujuan mereka akan tercapai.
Jenis percaya diri lahir memungkinkan individu untuk tampil dan berperilaku dengan cara menunjukkan kepada dunia luar bahwa individu yakin akan dirinya.
b. Percaya diri lahir
Menurut Lindenfield (alih bahasa Ediati Kamil, 1997 : 7-11) menjelaskan bahwa untuk memberi kesan percaya diri pada dunia luar, individu perlu mengembangkan ketrampilan empat bidang yaitu :
1) Komunikasi
Dengan memiliki dasar yang baik di bidang ketrampilan berkomunikasi, individu akan dapat :
a) Mendengarkan orang lain dengan tepat, tenang dan penuh perhatian.
b) Dapat berkomunikasi dengan orang dari segala usia dan segala jenis latar belakang.
c) Berbicara secara fasih dan menggunakan nalar.
d) Berbicara di depan umum tanpa rasa takut.
2) Ketegasan
Sikap tegas akan menambah rasa percaya diri karena individu akan dapat :
a) Menyatakan kebutuhan mereka secara langsung dan terus terang.
b) Membela hak mereka dan hak orang lain.
c) Tahu bagaimana melakukan kompromi yang dapat diterima dengan baik.
3) Penampilan diri
Ketrampilan ini akan mengajarkan akan pentingnya “tampil” sebagai orang yang percaya diri. Hal ini akan memungkinkan mereka untuk :
1. Memilih gaya pakaian dan warna yang paling cocok kepribadian dan kondisi fisik.
2. Memilih pakaian yang cocok untuk berbagai peran peristiwa, dengan tetap mempertahankan gaya pribadinya.
3. Mampu menciptakan penampilan pertama yang menarik.
4) Pengendalian perasaan
Dalam hidup sehari-hari orang perlu mengendalikan perasaan. Individu perlu mengendalikan diri, mereka akan dapat :
1. Lebih percaya diri karena tidak khawatir akan lepas kendali.
2. Berani menghadapi tantangan dan resiko karena mereka bisa mengatasi rasa takut, khawatir dan frustasi.
3. Menghadapi kesedihan dengan wajar karena mereka tidak takut kalau-kalau kesedihan itu akan membebani dan menekan mereka selamanya.
4. Membiarkan dirinya bertindak spontan dan lepas kalau ingin santai, karena mereka tidak khawatir akan lepas kendali.

2.1.4 Cara Meningkatkan Rasa Percaya Diri
Lindenfield (Kamil, 1997 : 14) menjelaskan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam meningkatkan rasa percaya diri diantaranya sebagai berikut :
1. Cinta
Yang penting bukan besarnya jumlah cinta yang diberikan, tetapi mutunya. Individu perlu terus merasa dicintai tanpa syarat. Untuk perkembangan harga diri yang sehat dan langgeng, mereka harus merasa bahwa mereka dihargai karena keadaan mereka sesungguhnya, bukan keadaan mereka yang seharusnya, atau seperti yang diinginkan orang lain.
2. Rasa aman
Ketakutan dan kekhawatiran merupakan hal yang berpengaruh terhadap percaya diri individu. Individu yang selalu khawatir bahwa kebutuhan dasar mereka tidak akan terpenuhi, atau bahwa dunia lahiriah atau batiniah mereka setiap saat dapat hancur, akan sulit mengembangkan pandangan positif tentang diri mereka, orang lain, dan dunia pada umumnya. Bila individu merasa aman, mereka secara tidak langsung akan mencoba mengembangkan kemampuan mereka dengan menjawab tantangan serta berani mengambil resiko.
3. Model peran
Mengajar lewat contoh adalah cara paling efektif agar anak mengembangkan sikap dan ketrampilan sosial yang diperlukan untuk percaya diri. Dalam hal ini peran orang lain sangat dibutuhkan untuk dijadikan contoh bagi individu untuk dapat meningkatkan kepercayaan dirinya.
4. Hubungan
Untuk mengembangkan rasa percaya diri terhadap “segala macam hal”, individu jelas perlu mengalami dan bereksperimen dengan beraneka hubungan, dari yang dekat dan akrab di rumah, teman sebaya, maupun yang lebih asing. Melalui hubungan, individu juga membangun rasa sadar diri dan pengenalan diri, yang merupakan unsur penting dari rasa percaya diri batin.
5. Kesehatan
Untuk bisa menggunakan sebaik-baiknya kekuatan dan bakat kita, kita membutuhkan energi. Jika mereka dalam keadaan sehat, dalam masyarakat bisa dipastikan biasanya mendapatkan lebih banyak perhatian, dorongan moral, dan bahkan kesempatan.
6. Sumber daya
Sumber daya mempunyai dorongan yang kuat karena dengan perkembangan kemampuan anak memungkinkan mereka memakai kekuatan tersebut untuk menutupi kelemahan yang mereka miliki.
7. Dukungan
Anak membutuhkan dorongan dan pembinaan bagaimana menggunakan sumber daya yang mereka miliki. Mereka membutuhkan orang yang menjadi “akar” bagi mereka, agar mereka lebih percaya diri dan terampil, orang yang memberi mereka umpan balik yang jujur dan membangun, baik mereka berhasil maupun gagal. Dukungan juga merupakan faktor utama dalam membantu anak sembuh dari pukulan terhadap rasa percaya diri yang disebabkan oleh trauma, luka dan kekecewaan.
8. Upah dan hadiah
Meskipun proses mengembangkan rasa percaya diri (seperti setiap balajar lainnya) itu sendiri bisa menyenangkan, tetapi kadang-kadang hal itu tidak demikian. “Hadiah-hadiah” untuk usaha yang telah dilakukan.


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang menggambarkan dan menganalisis tentang percaya diri siswa dalam menghadapi ujian SMP 02 Dulupi Kabupaten Boalemo.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian di SMP 02 Dulupi Kabupaten Boalemo yang dilaksanakan di kelas VII dan VIII sebagai subjek penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November – desember 2009.

3.3 Variabel Operasional
Mengacu pada hipotesis masalah yang diteliti, maka dalam penelitian ini akan dianalisis variabel penelitian yaitu :
1. Variabel Y adalah analisis tentang percaya diri dalam menghadapi ujian dengan indikator :
a. Mampu berkomunikasi dengan baik.
b. Tegas dalam mengambil keputusan.
c. Lebih banyak berpikir positif.
d. Tenang dalam mengerjakan tugas.

3.4 Populasi dan Sampel
3.4.1 Populasi
Dalam penelitian ini yang menjadi anggota populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP 02 Dulupi Kabupaten Boalemo dengan jumlah populasi 135 orang siswa.
3.4.2 Sampel
Anggota sampel dalam penelitian ini adalah 25% dari masing-masing jumlah siswa di kelas VII dan VIII berjumlah 30 orang siswa.

3.5 Teknik Pengumpulan Data
3.5.1 Observasi
Sebagai teknik awal digunakan untuk memperoleh data umum obyek penelitian yang meliputi keadaan siswa, sekolah serta proses belajar-mengajar.
3.5.2 Teknik Kuesioner
Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data analisis tentang percaya diri siswa dalam menghadapi ujian. Adapun jenis kuesioner yang dibuat dari 30 buah pernyataan yang merupakan penjabaran dari indikator.

3.5.3 Teknik Analisis Data
Data yang telah dikumpulaknan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kuantitatif, dengan menggunakan tabel frekuensi (persentasi) dengan formulasi sebagai berikut:

Dimana:
P = Persentasi
f = Frekuensi
n = Banyaknya responden
100 = Bilangan tetap (Sudjana, 1996:45)
Kemudian untuk mengklasifikasikan analisis percaya diri siswa dalam menghadapi ujian, digunakan teknik analisis sebagai berikut:

Dimana:
P = Persentasi
Sr = Skor indikator/responden
Smin = Skor minimal yang mungkin dicapai
R = Selisih antara skor maksimal dengan skor minimal
Selanjutnya akan diklasifikasi sebagai berikut;
Skor Persentase Klasifikasi
75 % – 100% Selalu
50% - 75%Sering
25% - 50% Kadang-kadang
0% - 25% Tidak pernah

(Arikunto, 1996:244)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar